memo-x

Berita, komentar, dan fitur terbaru dari The Memo X

Upaya restorasi mangrove di Indonesia menjanjikan, namun banyak kendala

  • Indonesia memiliki lebih banyak hutan bakau daripada negara lain, tetapi sebagian besar telah terdegradasi untuk tambak ikan dan udang.
  • Pemerintah bertujuan untuk memulihkan 600.000 hektar hutan bakau pada tahun 2024, tetapi ada pertanyaan tentang kemajuannya menuju tujuan itu.
  • Jika Indonesia benar-benar dapat menghentikan perusakan hutan bakau, Indonesia dapat mencapai seperempat dari target pengurangan emisi pemerintah sebesar 26% untuk tahun 2030.

Di desa Kun-Kun, Indonesia, di mana penebang liar membuka rawa-rawa untuk diambil kayunya, mata pencaharian baru telah muncul: memancing kepiting.

Roslina, 50, mengatakan tanpa mangrove, kepiting tidak bisa tumbuh dengan baik.

Dia memimpin sekelompok petani hutan yang didukung pemerintah di Kun-Kun, Sumatera Utara, dekat pantai Samudera Hindia di Pulau Roslina.

Kisahnya diceritakan dalam pamflet pemerintah tentang tim yang dilatih oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk budidaya kepiting bakau di bawah proyek yang didanai oleh Bank Dunia dan pemerintah Denmark.

Kun-Kun adalah contoh bagaimana melindungi hutan bakau dapat bermanfaat bagi mata pencaharian lokal. Tapi itulah satu-satunya titik terang di Indonesia, yang memiliki lebih banyak bakau daripada negara lain, tetapi bakaunya sebagian besar terdegradasi, menurut statistik pemerintah.

Nelayan kepiting di kawasan mangrove Teluk Pangbang, Jawa Timur. Gambar oleh Rifky/CIFOR-ICRAF Flickr (CC BY-NC-ND 2.0)

Mangrove menyerap lebih banyak karbon per hektar daripada hutan asli, menjadikannya sangat penting dalam memerangi perubahan iklim. Indonesia telah berjanji untuk mengurangi emisi karbonnya sebesar 29% pada tahun 2030, 29% dari tahun dasar 2010, atau 41% dengan bantuan internasional.

Mangrove menghasilkan produk hutan dan ikan liar dan bertindak sebagai penyangga untuk melindungi garis pantai dari peristiwa cuaca ekstrem seperti tsunami.

Terlepas dari keuntungan ini, banyak hutan bakau di Indonesia telah dibuka untuk budidaya perikanan.

READ  Perekonomian Indonesia relatif terisolasi dari krisis di Ukraina

Sebagai contoh, di provinsi Korandalo di pulau Sulawesi, lebih dari 90% hutan bakau di Cagar Alam Tanjung Panjang telah dibuka secara ilegal untuk dijadikan tambak udang dan ikan, kata Nurain Labolo, direktur Jaringan Advokasi Alam. Pengelolaan Sumber Daya (JAPESDA), sebuah komite konservasi lokal.

“Pengabaian pemerintah dan zonasi yang tidak konsisten telah memungkinkan perambahan yang meluas,” katanya kepada Mongabay.

Setelah banyak kerusakan, pemerintah telah memperketat peraturan di daerah tersebut. Upaya rehabilitasi mangrove masih terus dilakukan, namun kurangnya rasa memiliki terhadap program rehabilitasi di kalangan masyarakat menghambat upaya tersebut, kata Nurain.

Menurut Pusat Penelitian Kehutanan Internasional Indonesia (CIFOR). kalah 52.000 hektar (128.500 hektar) bakau setiap tahun, area yang lebih besar dari New York City. 40% hutan bakau di negara ini telah hilang dalam 30 tahun terakhir.

Perusakan bakau Indonesia melepaskan 190 juta metrik ton karbon dioksida setiap tahun, menurut CIFOR. Ini menyumbang 42% dari emisi tahunan global dari kerusakan ekosistem pesisir.

Jika Indonesia benar-benar dapat menghentikan perusakan bakau, Indonesia dapat mencapai seperempat dari target pengurangan emisi pemerintah sebesar 29% pada tahun 2030. CIFOR menghitung bahwa ini setara dengan menghilangkan 40 juta mobil dari jalan.

Mangrove hancur di Sumatera, Indonesia.
Mangrove hancur di Sumatera, Indonesia. Perusakan bakau Indonesia melepaskan 190 juta metrik ton karbon dioksida setiap tahun, menurut CIFOR. Foto oleh Stefanotomansky Flickr (CC BY-NC 2.0)

Peraturan Presiden 2012 telah dibuat Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Untuk mengimplementasikan strategi regulasi ini, Kelombok membentuk Satuan Tugas Mangrove Nasional multidisiplin, Kerja Mangrove Nasional (KKMN). Namun, menurut sekretarisnya dalam debat 2018, gugus tugas kekurangan dana dan tidak dikelola, serta tidak mampu mengoordinasikan berbagai sektor.

Hardono Praviratmadja, Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), kata awal tahun ini Tujuan badan tersebut untuk memulihkan 600.000 hektar (1,48 juta hektar) hutan bakau pada tahun 2024 dapat dipenuhi.

READ  Minat beli minyak sawit turun karena perdagangan menunggu pajak ekspor Indonesia berakhir: Sumber

Dia mengatakan target rehabilitasi badan tahun 2021 sebesar 30.000 hektar (74.100 hektar) terlampaui sementara 34.911 hektar (86.267 hektar) dipulihkan. Dia tidak mengatakan berapa banyak mangrove yang rusak pada tahun 2021.

Mongabai menghubungi ketua BRGM melalui WhatsApp untuk menanyakan bagaimana verifikasi jumlah target yang terlampaui dan bagaimana dipastikan luasan mangrove yang rusak pada tahun 2021. Hardono tidak menjawab.

Sebuah blog tentang rehabilitasi mangrove pada bulan Mei membahas tantangan di platform tersebut. Rio Ahmad, direktur Yayasan Hutan Biru, sebuah kelompok konservasi lokal, mengatakan tingkat keberhasilan model penanaman rendah karena bibit tidak ditanam di tempat yang tepat.

“Mangrove sering dipaksa tumbuh di lahan berlumpur yang rata,” katanya. “Biasanya ditanam di bawah permukaan laut, di mana bakau tidak bisa tumbuh.”

Dalam wawancara dengan Mongabay, Rio ditanya tentang kemungkinan tingkat keberhasilan pencapaian tahun 2021 yang dinyatakan BRGM.

“Kami belum mengetahui hasil evaluasi program penanaman mangrove BRGM atau tingkat kelangsungan hidup mangrove pada 2021. Perlu rilis resmi dari BRGM atau pihak wajib lainnya terkait hal ini,” kata Rio.

Namun, ia menyebutkan enam prinsip yang akan mendukung keberhasilan rehabilitasi mangrove.

Pertama, pahami sejarah bentang alam dan kondisi di mana rehabilitasi akan dilakukan. Jika lokasi rehabilitasi sebelumnya bukan kawasan mangrove, tingkat kegagalannya tinggi.

Kedua, mempertimbangkan hambatan dan faktor penghambat regenerasi alami mangrove. Sebelum ada pekerjaan rehabilitasi, faktor pembatas seperti hidrologi dan ketersediaan bibit harus diatasi, kata Rio.

Pembibitan mangrove
Pembibitan mangrove di Cagar Alam Pulau Tua, Jawa, Indonesia. Gambar oleh Aulia Erlangga/CIFOR Flickr (CC BY-NC-ND 2.0)

Abu Bakr Siddique Ghatili, peneliti biologi di Korandalo State University, menjelaskan di mana mangrove paling baik ditanam.

“Tempat yang dipilih untuk menanam mangrove adalah yang tanahnya bersih dan bersih, bebas masalah dan jelas berstatus tanah negara,” ujarnya kepada Mongabay.

READ  Indonesia mendirikan peternakan dan pusat pelatihan model telur tanpa kandang pertama

Syarat lainnya adalah tempat tersebut harus mendapat persetujuan dari semua pihak yang terlibat. Intervensi manusia diperlukan untuk mencegah regenerasi alami dan potensi perubahan penggunaan lahan di masa depan.

“Sebuah contoh [for an appropriate planting site] Lahan terbuka, di kedua tepi sungai, kolam, hutan yang rusak berat. Di tempat lain harusnya tanahnya becek dan terkena ombak,” kata Kadili.

Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Tahun 2017 tentang Pengelolaan Mangrove menargetkan 3,49 juta hektar (8,62 juta hektar) tutupan mangrove yang baik pada tahun 2045.

Indonesia ingin memulihkan semua situs yang rusak dan memelihara hutan bakau dalam kondisi baik pada tahun 2045, peringatan seratus tahun kemerdekaan negara itu.

Salah satu ukuran keberhasilan adalah munculnya ratusan, bahkan ribuan, Roslina di seluruh nusantara untuk melindungi dan memanfaatkan hutan bakau di desa mereka.

“Pasokan kepiting kami terkadang tidak bisa memenuhi permintaan yang tinggi,” kata Roslina. “Pasar sedang menunggu kita.”

Gambar spanduk: Mangrove di Raja Ampat, Indonesia. Gambar oleh Badan Kelautan / Bank Gambar Laut.

Keanekaragaman hayati, ketahanan karbon, perubahan iklim, ekosistem pesisir, konservasi, penggundulan hutan, restorasi ekosistem, pengurangan emisi, lingkungan, hukum lingkungan, karbon hutan, degradasi hutan, hutan, hutan, tata kelola, bakau, lautan, hutan lindung, hutan lindung

Mencetak