memo-x

Berita, komentar, dan fitur terbaru dari The Memo X

Pria tebu Indonesia dibebaskan oleh Pengadilan Tinggi sambil menunggu banding

KOTA KINABALU: Seorang pekerja migran yang dicambuk saat mengajukan banding atas izin tinggal ilegalnya di Malaysia telah dibebaskan oleh Pengadilan Tinggi Dawau.

Hakim Lim Hock Leng membebaskan buruh Indonesia Sabri Umar pada Jumat (22 Juli) menyusul banding terhadap vonisnya oleh Pengadilan Sidang pada 19 April tahun ini.

Setelah Sabri mengaku bersalah, dia dijatuhi hukuman 11 bulan penjara berdasarkan pasal 6(1)(c) Undang-Undang Imigrasi 1959/63, dan lima pukulan rotan.

Putusan pengadilan tinggi itu muncul setelah pengacara dari Jussary Kang, sebuah firma hukum yang mewakili Kedutaan Besar Indonesia cabang Dawau, mengajukan kasus terhadap Sabri karena kesalahan pemenjaraan.

Pengacara Sabri berdalih bahwa Sabri memegang paspor Indonesia yang masih berlaku dan memiliki izin kerja dari Fu Yee Corporation.

Pengadilan diberitahu bahwa Sabri, yang tidak terwakili ketika dia didakwa di Pengadilan Sidang Dawau, mengaku bersalah dengan keyakinan yang salah bahwa dia akan dideportasi pada Mei 2022.

Mereka berpendapat bahwa Pengadilan Sesi tidak memeriksa apakah Sabri memiliki paspor yang sah ketika dia mengaku bersalah tetapi mengajukan petisi kepada Pengadilan Tinggi untuk membatalkan hukuman tersebut.

Pengadilan diberitahu bahwa Sabri dicambuk pada 23 Juni sementara banding diajukan pada 21 April tahun ini.

Kasus Sabri mendapat kecaman keras dari kelompok-kelompok hak asasi manusia setelah dia dicambuk di Penjara Davao meskipun bandingnya terhadap hukuman itu belum disidangkan oleh Pengadilan Tinggi Davao.

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan pada 19 Juli, 24 LSM yang dipimpin perwakilan Malaysia dari Building and Wood Workers International (BWI) wilayah Asia Pasifik mengatakan cambuk itu salah.

Kelompok-kelompok ini menuntut pemerintah meminta maaf dan menghapus hukuman cambuk.

READ  Indonesia mengatakan Freeport masih berbicara di China untuk peleburan tembaga