memo-x

Berita, komentar, dan fitur terbaru dari The Memo X

Polisi Indonesia membunuh tersangka militan yang melawan saat ditangkap

JAKARTA, Indonesia (Associated Press) – Elemen elit kepolisian anti-teror Indonesia telah menembak seorang dokter yang menolak penangkapan yang diduga terkait dengan kelompok militan terlarang Jemaah Islamiyah, yang telah disalahkan atas serangkaian pemboman masa lalu, kata polisi, Jumat.

Sunardi, 53, mengatakan pria itu, yang diidentifikasi dengan nama tunggalnya, mencoba menabrak petugas yang mencegat pikapnya pada hari Rabu di sebuah jalan di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, mendorong dua petugas untuk melompat ke dalam kotak kargo truk. Juru bicara Kepolisian Nasional Ahmed Ramadan.

Tersangka mengabaikan peringatan polisi untuk menghentikan truk dan terus mengemudi dengan kecepatan tinggi dalam pola membelok dalam upaya nyata untuk melemparkan dua petugas keluar dari truk. Ramadan mengatakan dia menabrak mobil di dekatnya dan polisi melepaskan tembakan ke arahnya.

“Apa yang dilakukan petugas kami sudah sesuai dengan prosedur dan tindakan,” kata Ramadhan. “Tersangka menyebabkan situasi yang mengancam jiwa bagi petugas dan masyarakat.”

Tersangka yang dibunuh, yang sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah pesantren di Sukoharjo, di mana ia juga memiliki praktek medis, ditembak di punggung dan pinggul dan dibawa ke rumah sakit polisi di kota terdekat Solo tetapi meninggal di jalan. kata Ramadhan. Dua petugas yang mengejar tersangka terluka dan dibawa ke rumah sakit di fasilitas yang sama.

Ramadan mengatakan dia yakin tersangka adalah anggota kunci dari jaringan Jemaah Islamiyah yang terkait dengan al Qaeda, yang berada di balik pemboman tahun 2002 di pulau wisata Bali yang menewaskan 202 orang, sebagian besar turis asing, dan serangan lainnya.

Ramadan mengatakan dia adalah wakil pemimpin Jemaah Islamiyah, tanpa mengatakan apakah Al-Sinardi berperan dalam setiap serangan di Indonesia. Ramadhan mengatakan bahwa al-Sinardi juga dituduh merekrut dan memberikan bantuan dan dana kepada sejumlah militan Indonesia yang melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk bergabung dengan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan al-Qaeda di sana.

READ  Kisah dominasi Asia

Pengadilan Indonesia melarang Jemaah Islamiyah pada tahun 2008, dan tindakan keras yang sedang berlangsung oleh pasukan keamanan yang didukung oleh Amerika Serikat dan Australia telah membantu melemahkan jaringan militan.

Serangan militan terhadap orang asing di Indonesia sebagian besar telah digantikan dalam beberapa tahun terakhir dengan serangan yang lebih kecil dan tidak terlalu mematikan yang menargetkan pemerintah, khususnya polisi dan pasukan keamanan, yang terinspirasi oleh taktik ISIS di luar negeri.

Unit anti-teror kepolisian Indonesia, yang dikenal sebagai Densus 88, telah menangkap lebih dari 500 tersangka anggota Jemaah Islamiyah dalam dua tahun terakhir, termasuk seorang anggota Majelis Ulama Indonesia, badan Muslim tertinggi di negara itu, yang ditangkap pada November 2021. Pihak berwenang memperkirakan bahwa termasuk Grup memiliki lebih dari 6000 anggota.

Polisi Indonesia mendapat kecaman karena menembak tersangka daripada mencoba menangkap mereka. Pihak berwenang mengatakan dia dipaksa untuk berjuang sendiri.