memo-x

Berita, komentar, dan fitur terbaru dari The Memo X

MMEA telah mengidentifikasi jalur penyelundupan di Johor untuk merekrut TKI sebagai pembantu rumah tangga

File foto sebuah desa di Pontian, Johor, dari November 2019 ini menunjukkan pantai.  - Gambar oleh Shafwan Zaidan

File foto sebuah desa di Pontian, Johor, dari November 2019 ini menunjukkan pantai. – Gambar oleh Shafwan Zaidan

Oleh Rex Dawn

Jumat, 24 Juni 2022 10:34 MYT

KUALA LUMPUR, 24 Juni – Pantai-pantai negara bagian itu telah menjadi hotspot bagi geng penyelundup yang membawa migran tidak berdokumen dari Indonesia sebagai pembantu rumah tangga, menurut Badan Penegakan Maritim Malaysia Johor (MMEA).

Menurut The Star, rute penyelundupan yang digunakan oleh Direktur MMEA Laksamana Pertama Angkatan Laut Noorul Hisham Zakaria untuk tujuan ini telah ditemukan di pantai timur dan barat Johor.

Dia mengatakan Pondicherry dan Tanjong Pia adalah titik pendaratan utama di pantai barat, dan Tanjore Benjosop ke Tanjong Palau di timur digunakan untuk menyelundupkan orang ke dalam dan ke luar negeri.

Noorul Hisham mengatakan, sebelum mengatur penculikan migran, sindikat biasanya akan mewawancarai mereka secara online.

“Biaya sindikat dapat berkisar dari RM500 hingga RM3.000, tergantung pada jenis perahu dan tingkat kesulitan dalam membantu membawa mereka masuk atau keluar,” katanya seperti dikutip. .

Pada tanggal 18 Januari, MMEA Johor menyelamatkan enam migran tidak berdokumen yang diculik melalui Pontian, kapal mereka tenggelam setelah dihantam ombak yang kuat.

Ada dua pria dan sebelas wanita di kapal, tujuh wanita masih hilang.

“Penyelidikan awal mengungkapkan bahwa kedua pria itu ‘Dekong’ saat bekerja di sektor jasa wanita,” kata Noorul Hisham.

Secara terpisah, Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Hermono memperingatkan warga negaranya agar tidak memasuki Malaysia secara tidak resmi untuk mencari pekerjaan, yang dapat mengarah pada eksploitasi mereka.

Ia menyarankan untuk menggunakan One Channel System (OCS) yang telah disetujui sebagaimana diatur dalam Memorandum of Understanding (MoU) Malaysia-Indonesia.

READ  Samsung telah menunjuk Indonesia sebagai agensi digital

“Jika mereka menggunakan saluran lain, ada risiko dieksploitasi dan dibajak oleh individu tertentu.

“Kami tidak memiliki data mereka, kontak mereka, kondisi kerja dan kontrak mereka dan bahkan data majikan … jadi itu akan berbahaya bagi mereka,” kata duta besar itu.

Pada 1 April, Menteri Sumber Daya Manusia Dato’ Sri M. Saravanan dan Menteri Sumber Daya Manusia Indonesia Ida Fouzia menandatangani Nota Kesepahaman tentang ketenagakerjaan dan keamanan pekerja rumah tangga Indonesia di Jakarta.

Mereka sepakat untuk mengubah sistem saluran (OCS) menjadi sistem online tunggal untuk memastikan bahwa hanya mereka yang memenuhi syarat yang dapat mempekerjakan pekerja rumah tangga Indonesia dengan gaji bulanan minimal RM1.500.

Nota kesepahaman juga menggarisbawahi bahwa pekerja rumah tangga memiliki hak untuk cuti tahunan, hak untuk berkomunikasi, dan hak untuk memiliki dokumen resmi seperti paspor.