memo-x

Berita, komentar, dan fitur terbaru dari The Memo X

Melindungi geopark di Indonesia berarti melestarikan alam dan budaya

Guy Martini, Presiden UNESCO Geoparks Board (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa), mengatakan geopark bukan sekadar geopark.

Hal ini dikarenakan sebuah geopark memiliki arti dan fungsi yang melampaui sebuah geopark. Ini berfungsi sebagai penghubung antara warisan geologis dan semua aspek lain dari warisan alam dan budaya di wilayah tersebut. Ini bertujuan untuk menghubungkan kembali masyarakat manusia dengan planet ini dan merayakan bagaimana Bumi dan 4.600 juta tahun sejarahnya telah membentuk setiap aspek kehidupan manusia dan masyarakat mereka.

Kehadiran geopark membantu melestarikan alam dan budaya, meningkatkan perekonomian serta berkontribusi pada kemakmuran masyarakat setempat.

Indonesia melihat potensi besar dalam mengembangkan kerjasama antar negara dengan geopark dalam rangka mendukung upaya pelestarian alam dan budaya, mengembangkan ekonomi kreatif, dan mendorong industri pariwisata.

Pejabat mengatakan setidaknya 110 wilayah Indonesia dapat dikembangkan menjadi geopark. Indonesia saat ini memiliki setidaknya 15 Geopark Nasional, termasuk 6 yang telah masuk dalam UNESCO List of World Geoparks (UGGp).

Keenam geopark tersebut adalah Batur di Bali, Seletoh Bilabuhanratu di Jawa Barat, Gunung Seo di Yogyakarta, Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB), Kaldera Toba di Sumatera Utara, dan Belitung di Provinsi Bangka Belitung, Pulau Sumatera.

Berbicara dalam konferensi virtual Geopark Nasional di Indonesia pada 22 November 2021, Presiden Joko Widodo mengingatkan semua pemangku kepentingan dan masyarakat untuk melindungi geopark negara dari kerusakan dan eksploitasi berlebihan.

Menurut Widodo, geopark merupakan tempat belajar dan melestarikan kekayaan dan keanekaragaman hayati Indonesia.

“Kami berharap dapat melindungi kekayaan geologi kita dengan melestarikan warisan geologi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti nilai arkeologi, lingkungan, sejarah dan budaya, sehingga dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.

READ  Sejuta dalam Sangkar, Tak Seorang pun di Alam Liar: Membebaskan Jalak Pied Jawa

Dia menambahkan, geopark mungkin cocok dengan tren pariwisata yang muncul selama pandemi, yang memprioritaskan ekowisata dan pariwisata rawat inap.

Dia menyerukan sistem pengelolaan yang baik untuk geopark yang menyeimbangkan konservasi alam dengan kepentingan ekonomi. Ia mengatakan, perumusan sistem pengelolaan harus melibatkan aktivis lingkungan, akademisi, dan masyarakat lokal.

Turut berbicara dalam konferensi tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Eric Thoehr berpendapat bahwa pengembangan geopark menjadi tujuan wisata akan memiliki efek riak pada masyarakat.

Ia menjelaskan, hal ini tidak hanya akan menciptakan peluang investasi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di sektor ekonomi kreatif, yang dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat.

Dia mencatat, pengembangan geopark dilakukan sesuai dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs). Ia menambahkan, fokusnya tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi meluas ke aspek budaya dan lingkungan dengan memperhatikan kearifan lokal agar kawasan tersebut tidak dieksploitasi secara berlebihan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjetan menyoroti pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk pengembangan geopark nasional sebagai destinasi pariwisata.

Berbicara pada konferensi yang sama, Panjitan mengatakan geopark memiliki potensi untuk menarik lebih banyak wisatawan domestik dan internasional.

“Konsep geopark perlu kita dukung seperti yang tertuang dalam Perpres Nomor 9 Tahun 2019, dan kita juga harus memperkuat pengelolaan multi-stakeholder dengan memantau tiga pilar pembangunan geopark: konservasi, pendidikan, dan penghidupan masyarakat lokal,” tambahnya.

Panjitan mencatat, Indonesia merupakan negara dengan jumlah geopark terbanyak dalam daftar World Geoparks (UGGps) UNESCO se-Asia Tenggara dan menempati urutan kedelapan dari hanya 44 negara yang memasukkan geopark dalam daftar UGGp.

Indonesia saat ini sedang melakukan persiapan untuk mengusulkan dimasukkannya 12 geopark lagi ke dalam Daftar UGGp UNESCO.

READ  Vietnam menyambut turis pertama ke sebuah pulau dalam dua tahun

Ambisi tersebut tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.

Ke-12 geopark tersebut antara lain Ijen di Banyuwangi, Maros Panjkeep di selatan, Raja Ampat di Papua Barat, Miratus di Kalimantan Selatan, dan Mirangin di Jambi.

Komisi Nasional Geopark Indonesia (KNGI) yang dibentuk pada tahun 2018 melakukan persiapan dengan melibatkan penduduk setempat, terutama kaum muda, untuk meningkatkan kesadaran tentang konservasi geopark dan memetik manfaat ekonomi darinya.

Kepala Badan Pengembangan Geopark Meratus, Nurul Fajar Desira, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 9 November 2021, mengatakan kesiapan masyarakat setempat sangat penting untuk pengembangan geopark tersebut.

“Tujuan utama geopark adalah untuk melestarikan (lingkungan) Pegunungan Miratos dan menggali nilai ekonomi masyarakat setempat melalui kekayaan alam dan budayanya,” kata Desira.

Ia mengatakan Geopark Dangsanak Meratus dibentuk sebagai kelompok sukarelawan yang anggotanya terdiri dari para aktivis lingkungan, mahasiswa, akademisi, pengusaha, pekerja media dan tokoh-tokoh lokal yang memiliki kepentingan bersama dalam melestarikan lingkungan di Kalimantan Selatan.

Dijelaskannya, rombongan diharapkan bisa menjadi mitra dinas dalam pengembangan geopark tersebut.

Pemerintah Kalsel telah mengajukan proposal pemberian status UGGp kepada Miratus Geopark. PBB akan melakukan penilaian ini pada tahun 2022.

Desira mencatat Pegunungan Miratos yang mendapatkan label Geopark nasional pada 2018, memiliki 74 situs geologi potensial yang berada di sembilan wilayah dan kota, antara lain Tabalung, Balangan, Hulu Sungai Tengah dan Selatan, Tabin, Banjar, dan Kotabaru.

Dikatakannya, Kalsel telah melakukan banyak upaya untuk mencapai status UGGp dengan meningkatkan fasilitas umum di lokasi geografis dan meningkatkan kesadaran di sekolah dan masyarakat, antara lain.

Penting bagi masyarakat setempat untuk memiliki pengetahuan yang baik tentang kondisi geologi di daerah mereka sendiri sehingga mereka dapat mengambil bagian dalam pengelolaan situs geologi, katanya, seraya menambahkan bahwa Pegunungan Miratos yang berusia 200 juta tahun memiliki alam geologi yang kompleks. Tanggal.

READ  Hundreds of Google employees join unions, the culmination of years of activity

Oleh karena itu, Miratus Geopark akan masuk dalam kurikulum, mulai dari tingkat SD hingga SMA, ujarnya.

Presiden Geopark Dangsanak, M. Farid Sufian, menyatakan kesiapannya mendukung pencalonan Geopark Meratus untuk status UGGp.

“Yang penting bagi kami adalah pelestarian lingkungan di Miratus Geopark,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya siap melatih masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata.

Sementara itu, Pemprov Jambi juga tengah bersiap melakukan kajian terhadap Geopark Merangin untuk mendukung upayanya masuk dalam daftar UGGp.

“Kita perlu menyiapkan kajian komprehensif terkait sejarah, budaya, seni, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal dalam pengelolaan Geopark Merangin,” kata Gubernur Jambi, Wali, baru-baru ini.

Dia mencatat bahwa Miranjin Geopark memiliki nilai sejarah sebagai fosil tertua di dunia dan fragmen tanah dapat ditemukan di sana.

Dia menambahkan bahwa itu adalah rumah bagi berbagai spesies yang terancam punah karena merupakan bagian dari hutan hujan tropis Sumatera.

Berita terkait: Pengembangan geopark akan beri efek riak: Menteri Badan Usaha Milik Negara
Berita terkait: UNESCO tandatangani Kaldera Toba untuk tingkatkan pariwisata di Sumatera Utara
Berita terkait: Indonesia berupaya memasukkan lebih banyak geopark ke dalam daftar UGGp