memo-x

Berita, komentar, dan fitur terbaru dari The Memo X

Masjid Istiqlal di Indonesia

Masjid Al-Istiqlal di Jakarta, Indonesia

Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia, di mana semua misi diplomatik asing dan organisasi internasional mendirikan gedung dan kediamannya, termasuk perwakilan saudara kita dari Negara Libya.

Di Jakarta, orang akan menemukan banyak bangunan menarik untuk dikunjungi dan dijelajahi. Salah satu contoh bangunan tersebut adalah Masjid Istiqlal. Masjid memiliki makna penting di balik pendiriannya, tidak hanya dalam kaitannya dengan penampilan arsitektur dan filosofinya, tetapi juga dalam kaitannya dengan fungsinya sebagai pusat yang sangat baik untuk memperdalam ajaran agama Islam. Pengelolaan masjid ini diarahkan untuk memberikan pencerahan semangat dan kesempatan bagi masyarakat untuk menjadi bagian positif dari pembangunan bangsa serta memperoleh gaya hidup yang seimbang untuk kebutuhan jasmani dan rohani / mentalnya.

Masjid Istiqlal dibangun di pusat kota Jakarta dekat tempat-tempat umum di mana orang dapat jogging dan olahraga atau melakukan program populer lainnya seperti festival atau bazar / pameran. Gedung ini juga ditutup dengan bekas SMA saya (SMP 4 Jakarta Pusat) dan dengan kantor saya saat ini di Pijampun, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Pembangunan Masjid Istiqlal dimulai oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pada tanggal 24 Agustus 1961 hingga diresmikan oleh Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, pada tanggal 22 Februari 1978. Masjid Istiqlal dibangun dan dikelola sebagai simbol kebesaran umat Islam di Indonesia yang hidup. berdampingan dengan agama lain.

Nama Kemerdekaan sendiri adalah Kemerdekaan. Kemerdekaan dari pendudukan kolonial. Dalam rangka memperingati prestasi tersebut, masyarakat Indonesia bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa telah mendirikan Masjid Negara ini. Masjid Al-Istiqlal dibangun bersebelahan dengan gereja tua dan gedung administrasi pemerintahan lainnya (seperti Kantor Pos, Museum Nasional, Perpustakaan Nasional, Pasar Teddy Tua atau Pasar Baru, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, TNI Angkatan Darat Rumah Sakit, Kementerian Pertahanan, Istana Kepresidenan dan Negara, Monumen Nasional / Monas, Radio Republik Indonesia / RRI). Masyarakat juga bisa menjangkau masjid ini dengan menggunakan angkutan umum (bus atau kereta api).

Masjid Al-Istiqlal terutama dibangun untuk umat Islam dan Muslim untuk melakukan selendang, dan untuk mempelajari dan menyebarkan nilai-nilai dua belas kasihan bagi umat beriman dan keyakinan mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa atau ajaran tauhid yang diwahyukan Tuhan Yang Maha Esa kepada para nabi dan nabi-Nya. utusan dan yang diterima Nabi secara komprehensif. Nabi Muhammad saw. Ajaran ini mengarahkan orang untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain ketika mereka hidup di dunia non-batiniah.

READ  AFC memilih pemain kunci Vietnam menjelang kualifikasi Piala Dunia

Ajaran di atas telah menjadi misi dan tujuan utama pengelolaan masjid dengan memfasilitasi, mengembangkan dan mengajak umat Islam dan Muslim untuk belajar dan berpartisipasi aktif dalam berbagi amalan-amalan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Masjid ini juga terbuka untuk non-Muslim yang ingin mengetahui tentang Islam.

Hingga saat ini, Masjid Istiqlal dikenal sebagai Masjid Nasional Negara yang merupakan sentra unggulan bersama masjid-masjid lain di Indonesia setingkatnya. Masjid Istiqlal dibangun di atas lahan seluas 9,5 hektar, dengan kapasitas lebih dari 200.000, dan dijalankan oleh ulama, karyawan dan pekerja dengan kompetensi tertentu. Untuk itu, keterikatan masyarakat terhadap Masjid Al-Istiqlal tidak bisa dihindari dan nyata. Hal ini juga didukung dengan masuknya program kunjungan kenegaraan pejabat dari luar negeri dan banyaknya kunjungan program pariwisata Perhimpunan Nasional ke masjid ini setelah mereka berkunjung ke masjid bersejarah lainnya di Indonesia. Salah satu contoh dari asosiasi turis yang membuat program untuk mengunjungi Masjid Wali Songo (Wali Songo adalah sembilan dai / dai Islam ternama di tanah Jawa).

Dijelaskan Imam Kemerdekaan Agung, Prof. Nassaruddin Omar yang juga menjabat sebagai kepala administrasi masjid, pengelolaannya harus dijalankan oleh pribadi-pribadi yang profesional dan kompeten. Kompetensi mereka harus mencerminkan pemahaman mereka terhadap pesan Al-Qur’an yang mengandung aspek anekdot dan universalisme sebagai pemikiran dan tindakan yang seimbang. Pemahaman ini membuat seluruh manajemen aktif dalam mempertahankan jalannya menuju perbaikan diri dengan cara belajar, memantau, meningkatkan, mengeksplorasi, mengelola, mengawasi atau berinteraksi dengan lembaga dan masyarakat lain di dalam dan luar negeri.

Sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di ibu kota dan berusia hampir 45 tahun dalam menghadapi pinggiran kemerdekaan, saya sering menggunakan fasilitas umum yang disediakan oleh administrasi masjid seperti kantin, toilet, pusat olah raga, dan kebutuhan profesional seperti perpustakaan, sekolah, forum intelektual, diskusi, penyuluhan, atau kegiatan ekonomi. Atau buka puasa bersama saat Ramadhan, dll.

READ  Timnas Indonesia telah mengundurkan diri dari Kejuaraan Bulutangkis All England Open

Secara pribadi, saya bangga melihat tampilan segar Masjid Istiklal yang baru saja direnovasi. Renovasi tersebut berakhir pada 7 Januari 2021 dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Pemandangan baru Masjid Al Istiqlal mewakili lingkungan yang lebih modern dan ramah dengan pusat pelatihan kerja dan pemberdayaan. Upaya ini menjadi perhatian yang baik untuk memfasilitasi umat dan umat Islam dalam menjalankan aktivitas di masjid. Juga diyakini bahwa renovasi ini akan sedekat mungkin sesuai dengan pengguna dan pengunjung.

Sebagai seorang diplomat Indonesia yang mewakili Indonesia di Libya sejak September 2019, dengan senang hati saya tunjukkan bahwa sebagian besar dari orang-orang terkemuka yang saya temui di Libya, baik itu pejabat dari Kementerian Luar Negeri Negara Libya atau dari pemerintahan The National Oil Company / The Libyan National Oil Corporation serta tokoh dan tokoh Libya lainnya mengatakan Di antara institusi seni yang pernah berkunjung ke Indonesia mereka sangat terkesan dengan keberadaan Masjid Istiqlal. Salah satu pernyataan yang dikeluarkan oleh Ketua Dewan Direksi Perusahaan Minyak Nasional / Libyan National Oil Corporation Eng. Mustafa Sanallah, pada pertemuan pertama saya dengannya pada September 2019 di kantornya. Dia merefleksikan kekagumannya atas posisi Masjid Istiqlal dan menyadari bahwa dia memiliki hubungan spiritual dengan Masjid Istiqlal. Ia merasa nyaman untuk melakukan selendang dan berinteraksi dengan pengunjung lain dan sekitarnya.

Memperhatikan perkembangan di atas, Kedutaan Besar Republik Indonesia merasa berkewajiban untuk menjaga perasaan masyarakat Libya terhadap masjid ini, terutama dalam menyebarkan best practice kepada seluruh masyarakat di Libya.

Sejalan dengan perasaan tersebut, pengelola Masjid Al-Istiqlal menawarkan dan membuka kesempatan untuk bekerjasama dengan instansi terkait di Libya dalam meningkatkan kapasitas ulama dan mahasiswa dengan mengikuti program capacity building secara online maupun offline.

READ  Korea pulih setelah mengalahkan Indonesia 5

Untuk memulai dengan tujuan yang tulus ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tripoli bekerja sama dengan Pengurus Masjid Al-Istiqlal, Yayasan Pendidikan Orang Mati dan Bisu di Indonesia (Yayasan Majelis Taklim Tuli Indonesia / MTTI) serta Kementerian Luar Negeri, Republik Indonesia cq Pusat Pendidikan dan Pelatihan, serta anggota keluarga Indonesia yang tinggal di Libya menyiapkan program Kolaborasi dalam penerbitan “electronic resource in a chain” bagi orang-orang berkebutuhan khusus. Program ini berisi kajian sederhana tentang kata sumber dan turunannya secara umum dilengkapi dengan penjelasan keluarga untuk penyandang berkebutuhan khusus (tuna rungu dan tuna rungu). Program ini bertujuan untuk memfasilitasi penyandang disabilitas dalam mendengar dan berbicara (tuna rungu dan bisu) untuk mempelajari makna bahasa Arab secara lebih spesifik dengan menganalisis kata dan turunannya dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Diketahui bahwa tuli dan bisu membutuhkan perlakuan khusus. Maka untuk tujuan ini, cara terbaik adalah belajar Alquran dengan melibatkan para ahli bahasa Isarah dari Yayasan Majelis Taklim Tuli Indonesia (MTTI). Dengan pendekatan kooperatif, hasilnya akan lebih positif bagi semua orang.

Program pertama diawali dengan eksplorasi Surat Al-Fatiha. Dengan cara ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia mencoba memberikan hal-hal praktis kepada masyarakat untuk memahami satu unsur khusus dalam bahasa Arab yang dirujuk dari Alquran. Alkitab yang ternyata telah menjadi sumber pengetahuan dan rujukan resmi dan esensial bagi para ilmuwan dunia dalam menjelajahi alam semesta.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kedutaan Besar Republik Indonesia terbuka untuk bekerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan di Libya yang ingin menghubungi pengelola Masjid Nasional Istiqlal melalui www.istiqlal.or.id Atau dengan Yayasan Majelis Taklim Tuli Indonesia untuk mencari kemungkinan kerjasama untuk kepentingan dua orang dan dua negara.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi kita dan membimbing kita ke jalan yang lurus. Aaameen Ya Robbal Aalameen. Amin, wahai Rabal Alamein.