memo-x

Berita, komentar, dan fitur terbaru dari The Memo X

Jawa Barat terus mengalirkan kreativitas di tengah pandemi

Jakarta (Antara) –
Jawa Barat telah lama dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan kreatif di Indonesia, dan produk seni dan kerajinan dari daerah selalu menghidupkan lanskap budaya tanah air.

Selama pandemi, banyak perusahaan kreatif, termasuk yang bergerak di sektor fesyen, di Jawa Barat terpaksa mengambil langkah-langkah untuk beradaptasi dan bertahan dari dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada bisnis mereka.

Dalam hal seni budaya dan kerajinan, Indonesia adalah negara yang menampilkan warisannya dengan bangga. Salah satu cara yang tercermin adalah “Jirakan Nacional Banga Bhutan Indonesia” atau gerakan nasional yang dibanggakan di Indonesia (BBI Gernas). Acara puncak program ini diadakan pada bulan April tahun ini di Bandung, ibu kota Jawa Barat.

Dalam program tersebut, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Teten Masduki, menilai gerakan tersebut menjadi ajang untuk memamerkan produk-produk Indonesia yang kualitasnya sama, bahkan lebih tinggi, seperti yang dibuat di luar negeri.

Selain mempromosikan produk-produk Indonesia, gerakan ini juga bertujuan untuk membantu usaha kecil dan menengah bertahan dari dampak pandemi pada bisnis mereka.

Berita terkait: Tenun tradisional dapat membantu menenun ekonomi sukses

“Saya berharap melalui acara ini akan muncul tren baru di kalangan konsumen, untuk mencintai produk fesyen lokal yang diciptakan dengan kualitas tinggi di rumah sendiri,” ujarnya.

Ketika ditanya tentang produk lokal yang disukainya, Masdoki menyebutkan merek sepatu Brodo dan Fortuna yang berasal dari Bandung, di antara bisnis lokal lainnya.

“Merek Fortuna bahkan sudah merambah pasar high-end di Tokyo (Jepang), tapi sayangnya di mall-mall kita belum ada. Bahkan Giorgio Armani sudah pernah memproduksi sepatu dengan mereka sebelumnya,” ungkap Menkeu.

READ  Gempa berkekuatan 5,9 melanda Indonesia, menewaskan tujuh orang

Keinginan untuk mempertahankan dan memberdayakan bisnis lokal tidak hanya ditunjukkan oleh pemerintah tetapi juga oleh masyarakat, termasuk merek fashion lokal Nona Rara Batik yang berupaya menghubungkan bisnis antara pembuat batik di berbagai daerah dan konsumen batik.

“Kami mendirikan Nona Rara Batik 9 tahun lalu pada November 2011, dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pakaian batik,” kata pendiri perusahaan, Pipiet Tri Noorastuti.

Berita terkait: Pesona Goa Rangko yang diterangi matahari

Ia menjelaskan, busana batik tulis yang ditampilkan dalam karyanya termasuk yang ada di Garut, Jawa Barat, dalam rangkaian warna yang semarak.

Kami ingin para perajin dan perempuan lokal terus berkembang dan membuat karya seni mereka, sekaligus melestarikan warisan budaya. Dengan cara ini, kita dapat memungkinkan satu sama lain untuk tumbuh tanpa mengancam praktik bisnis perajin kecil di daerah yang lebih kecil, dan pada saat yang sama, mendukung perekonomian.”

Bertahan ditengah pandemi

Dalam upaya mereka untuk meningkatkan produk lokal dan meningkatkan jangkauan dan daya saing mereka di pasar internasional, bisnis lokal menghadapi tantangan yang muncul akibat pandemi COVID-19.

Misalnya, para pelaku bisnis fesyen di Bandung, ibu kota daerah, telah menghitung ulang strategi mereka selama pandemi untuk memastikan operasi mereka tetap berjalan.

Berita terkait: Mengintip surga yang menyapu pulau Amatbland

Gelang Permana Kencana, pemilik merek fesyen Motzint Original, mengulangi perjuangan sektor ini di tengah pandemi dalam sebuah webinar, dengan mengatakan bahwa perusahaan berusaha untuk mempertahankan karyawan mereka dan, oleh karena itu, mata pencaharian mereka.

“Tentunya, pandemi COVID-19 telah mendorong para pelaku bisnis di industri fashion untuk beradaptasi dan memikirkan kembali strategi kami agar bisnis tetap berjalan,” katanya.

READ  Ekonomi Indonesia tumbuh untuk pertama kalinya dalam lima kuartal; Analis memperingatkan itu bisa menjadi kemenangan jangka pendek karena Covid-19

Meski perusahaannya sudah beroperasi sejak 2014, katanya, sempat terpukul keras oleh pandemi, menambahkan bahwa dia harus menutup toko offline-nya dan menghentikan penjualan di luar kota.

Ia mengatakan, untuk mempertahankan bisnisnya, ia harus mengalihkan penjualan online melalui platform e-commerce dan marketplace. Dia menambahkan bahwa shift ini membantunya memastikan bahwa tidak ada karyawannya yang diberhentikan.

Mulai dari inisiatif pemerintah hingga skema dukungan people-to-people dan reorientasi strategis di tengah pandemi, beberapa pihak berupaya melestarikan karya seni dan kerajinan sekaligus melestarikan warisan Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat.

Berita terkait: Kedelai Premium Indonesia
Berita terkait: Menelusuri Jalur Rempah-rempah ke Panda