memo-x

Berita, komentar, dan fitur terbaru dari The Memo X

Indonesia bertujuan untuk budidaya berkelanjutan dengan ‘desa budidaya’

  • Indonesia berencana membangun jaringan 136 desa yang didedikasikan untuk akuakultur pada akhir tahun ini.
  • Inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan ekspor produk perikanan budidaya ternama dunia seperti udang, lobster, kepiting, dan spons.
  • Para ahli menyambut baik proyek tersebut, tetapi mengatakan itu harus didukung oleh perencanaan lingkungan yang tepat, terutama untuk menghindari deforestasi dan memastikan pengelolaan limbah yang tepat.
  • Indonesia adalah salah satu pengekspor makanan laut pertanian terbesar, tetapi budidaya ikan di negara ini telah lama mengorbankan hutan bakau yang kaya karbon dan ekosistem pesisir penting lainnya.

DENBASAR / JAKARTA – Pemerintah Indonesia berencana membangun jaringan puluhan desa budidaya pada akhir tahun ini dalam upaya mendorong pemulihan ekonomi pasca-epidemi dengan memenuhi permintaan global akan budidaya laut.

Kementerian Perikanan Indonesia mengatakan pada bulan Desember bahwa mereka telah mendirikan enam dari apa yang disebut desa akuakultur ini dan akan menambah 130 lagi pada akhir tahun 2022. Desa membudidayakan produk budidaya bernilai tinggi termasuk udang, lobster, kepiting dan spons.

“Peningkatan produksi produk untuk ekspor sangat penting,” kata TB Haeru Rahayu, Direktur Jenderal Kementerian Perikanan dan Budidaya, dalam acara online. Dia mengatakan proyek itu akan memperkuat ketahanan pangan negara dan menciptakan lapangan kerja baru.

Revitalisasi tambak udang di Provinsi Aceh di Pulau Sumatera. Gambar milik Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Di awal masa jabatan keduanya pada 2019, Presiden Joko Widodo memerintahkan Kementerian Perikanan. Akan meningkatkan produksi perikanan budidaya negara. Produksi akuakultur global telah tumbuh sebesar 527% dari tahun 1990-2018, dengan Indonesia menjadi salah satu produsen terbesar di dunia. Produksi perikanan budidaya negara itu pada kuartal ketiga tahun 2021 adalah 12,25 juta metrik ton, meningkat 6% dari periode yang sama pada tahun 2020. Departemen Perikanan menyumbang US$1,94 juta untuk penerimaan negara bukan pajak untuk tahun berjalan hingga November 2021. Itu lebih dari target $1,39 juta, kata kementerian itu.

READ  Sekretaris Anthony J Blinken dan Menlu RI Retno Marsudi jelang Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-AS

Indonesia adalah pengekspor makanan laut beku terbesar di dunia Tertinggal dari tetangganya Ekspor udang air tawar dan udang segar, asin atau asap. Beberapa spesies ekspor utama, termasuk udang windu Asia (Benois monoton) Dan udang kaki putih (Lithopenius vannami)

Para ahli menyambut baik upaya pemerintah untuk mengangkat sektor perikanan, tetapi itu harus menjamin perencanaan ekologis yang berkelanjutan, terutama dalam hal pembukaan lahan dan pengelolaan limbah untuk pertanian.

Abdul Halim, direktur pelaksana Center for the Study of Humanities Marine, mengatakan penciptaan tambak di Indonesia pada umumnya akan menghancurkan hutan rawa yang kaya karbon dan membuat tambak udang dan ikan. Selama tiga dekade terakhir, Indonesia telah kehilangan hampir setengah dari lahan basahnya. Menurut Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Pada tahun 2021, Presiden Widodo telah menetapkan target ambisius untuk menanam kembali 600.000 hektar (1,5 juta hektar) rawa pesisir pada tahun 2024.

Abdul mengatakan, pemerintah juga dapat mengatasi masalah pengelolaan limbah yang telah lama dikaitkan dengan budidaya perikanan, yang biasanya membuang limbah ke laut atau danau. Kementerian Perencanaan tahun 2019 diumumkan Lima belas danau berada dalam keadaan “kompleks” akibat degradasi lingkungan, seringkali karena aktivitas manusia seperti polusi, penggundulan hutan, dan praktik penangkapan ikan yang merusak. Peristiwa kematian ikan massal yang berulang biasanya dilaporkan di beberapa danau.

Tambak udang berbentuk bulat banyak digunakan oleh petani skala kecil dan pengusaha di Indonesia. Gambar milik Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Abdi Suhufan, Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) LSM Indonesia, mengatakan pemerintah harus mengatasi tantangan mendasar yang dihadapi sektor perikanan negara, seperti peta peternakan yang komprehensif, demarkasi lahan yang jelas, dan pengelolaan air yang baik. .

Revitalisasi industri tambak udang telah menjadi prioritas abadi pemerintah selama bertahun-tahun, dengan fokus pada pencegahan deforestasi mangrove. Namun, ada sedikit atau tidak ada kemajuan di bidang ini, kata Abdi.

READ  Frost & Sullivan Monitor Meningkatkan Adopsi Telematika pada Truk yang Tersambung di Indonesia

“Reformasi di sektor perikanan budidaya diperlukan untuk mencapai target produktivitas,” ujarnya.

Udang yang dibesarkan. Gambar milik Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Kisah ini pertama kali dilaporkan oleh kelompok Indonesia di Mongabai Di Sini Dan Di Sini pada kami situs indonesia Pada tanggal 9 Desember 2021 dan 4 Januari 2022.

Masukan: Gunakan formulir ini Kirim pesan ke penulis posting ini. Jika Anda ingin memposting komentar umum, Anda dapat melakukannya di bagian bawah halaman.

Perikanan, Ekosistem Pesisir, Konservasi, Deforestasi, Ekologi, Kebijakan Lingkungan, Ikan, Perikanan, Perikanan, Perikanan, Ekosistem Air Tawar, Perikanan Air Tawar, Pengelolaan, Penghijauan, Danau, Perubahan Penggunaan Lahan, Lahan Basah, Restorasi, Lanskap, Lanskap


tombol cetak
Mencetak