memo-x

Berita, komentar, dan fitur terbaru dari The Memo X

Bahlil Lahdalia: Banyak yang Tidak Puas dengan Pertumbuhan ASEAN, Sebut Kasus Uni Eropa Terhadap Nikel

TEMPO.CODan Jakarta – Menurut Bahleel Lahdalia, Menteri Penanaman Modal atau Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), ada negara yang tidak puas dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. ASEAN negara. Hal itu disampaikannya saat menghadiri sidang ke-25 Dewan Investasi ASEAN yang digelar di Kamboja, Rabu.

Dia mengatakan ketidakpuasan banyak negara terutama karena upaya anggota ASEAN, termasuk Indonesia, dalam melakukan transformasi ekonomi dengan menggenjot hilirisasi sumber daya alam, terutama mineral.

Strategi hilirisasi-sentris ini membuat pemerintah tidak lagi fokus menjual komoditas mentah, tetapi harus diolah terlebih dahulu di dalam negeri agar ada nilai tambah.

“Indonesia sedang menyaksikannya sekarang. Saat kita fokus pada hilirisasi nikel untuk produksi aki mobil dan beberapa negara ini memprotes kita di World Trade Organization (WTO). Ini contoh kecil, tapi tidak dikecualikan,” kata Bhalil. , mengutip pernyataan tertulisnya pada Kamis, 15 September. Saat ini “kemungkinan untuk negara lain”.

Dia menambahkan bahwa fokus pada sisi hilir telah menyebabkan hasil positif yang jelas dalam neraca perdagangan Indonesia. Pada tahun 2017, defisit perdagangan Indonesia dengan China adalah $18 miliar, tetapi menyusut menjadi $2,5 miliar pada tahun 2021.

Namun, pada semester I 2022, neraca perdagangan Indonesia dengan China sudah mencatat surplus 1 miliar dolar AS, dan total neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 15,55 miliar dolar AS. Ia menilai, hal tersebut merupakan hasil dari upaya pemerintah untuk menjual hasil olahan sumber daya alam ke luar negeri.

“Inilah dampak nyata dari masuknya sumber daya alam yang terus didorong oleh pemerintah saat ini. Kita harus tetap berada di jalur yang benar. Kita akan berjuang semaksimal mungkin,” kata Bahleel.

Pada November 2019, Uni Eropa (UE) secara resmi mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas kebijakan pemerintah Indonesia membatasi ekspor nikel, bijih besi, dan kromium sebagai bahan baku industri stainless steel Eropa.

READ  Kemenperin: Investor film Indonesia semakin beragam

Dalam gugatannya, Uni Eropa menilai Indonesia telah melanggar kewajiban antar anggota WTO untuk memberikan akses seluas-luasnya terhadap perdagangan internasional, termasuk untuk produk mentah nikel.

Saat ini, pemerintah Indonesia sedang menunggu hasil akhir dari proses penyelesaian sengketa perdagangan yang diajukan oleh Uni Eropa dalam sidang Organisasi Perdagangan Dunia tentang larangan ekspor bijih nikel. Menurut dia, gugatan tersebut masih dalam proses komite sengketa pendahuluan dan masih menunggu keputusan akhir dari WTO.

Atas dasar permasalahan tersebut, Bahleel meminta anggota ASEAN untuk menekankan pentingnya kohesi guna menciptakan kekuatan negosiasi yang kuat di tingkat global. Hal ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan keunggulan komparatif di masing-masing negara.

“Saya yakin kami memiliki kekuatan, tetapi kami masih belum fokus satu sama lain dalam memberikan penguatan kepada rekan ASEAN negara-negara “.

Arigal Rachman

klik disini Untuk mendapatkan update berita terbaru dari Tempo di Google News