pariwisata kabupaten malang

Menu

Dugaan Rekayasa Penyidikan Minuman Keras

  Dibaca : 21 kali
Dugaan Rekayasa Penyidikan Minuman Keras
Saat mendengarkan saksi dari Polsek Kota
space ads post kiri

Tulungagung, Memo X,

Penyidikan dan penggeledahan minuman keras yang bertempat di Kelurahan Bago Kecamatan Tulungagung Kabupaten Tulungagung diduga ada rekayasa. Pasalnya dalam sidang dakwaan dan keterangan saksi, Devin Atmawijaya dari Polsek Kota Tulungagung yang ikut dalam penggeledahan hampir tidak sama. Dalam dakwaan menyatakan bahwa anggota Polsek yang bertugas saat itu mendapatkan informasi dari masyarakat dengan adanya peredaran miras yang dilakukan oleh Terdakwa Slamet Mustari, tetapi dalam kesaksian di depan Majelis Hakim, Saksi Devin menyatakan bahwa saat itu bentuk kegiatan operasi rutin. Bahkan saat dilakukan penggeledahan di warung milik Slamet Mustari tidak ditemukan minuman keras, hingga salah satu anggota minta baik-baik untuk mencarikan barang bukti minuman keras dengan alasan guna pemusnahan barang bukti. Saat dilakukan penggeledahan, Devin mengatakan menemui 3 orang yang sedang melakukan minim-minuman keras di depan warung milik Slamet mustari, tetapi tidak dilakukan tindakan apapun kepada ketiga pelaku yang melakukan minum-minuman keras ditempat umum tersebut.

“Ini hanya operasi rutin saja dan bukan karena informasi dari masyarakat. Ketika melakukan penggeledahan kita tidak menemukan barang bukti tetapi saat kita meminta barang bukti, Slamet mengambilkan barang bukti miras yang ditaruh dipagar belakang rumah,” ungkap Saksi Devin Atmawijaya.

Saksi menambahkan, dirinya juga menemui 3 orang yang sedang melakukan minum-minuman keras di depan warung milik Slamet Mustari, ketika ditanya bahwa minuman tersebut dibeli dari dari warung Slamet Mustari. Tetapi pihaknya tidak melakukan tidakan apapun terhadap ketiga pelaku minum-minuman keras di tempat umum tersebut.

“Sudah lama kita mencurigai warung milik Slamet Mustari dan saat menuju kelokasi, kita menemukan ada 3 orang yang lagi mabuk-mabukan. Ketika kita tanya, mereka mengatakan bahwa miras tersebut dibeli dari warung Slamet Mustari. Kita tidak melakukan tindakan apapun kepada tiga orang yang melakukan tindakan minum minuman keras dimuka umum tersebut,” tambahnya.

Berdasarkan keterangan Para Penasehat Hukum Slamet Mustari, FX Sintua, SH, Galih Rama Kristian, SH, Apriliawan Adi W, SH, menduga bahwa proses penyidikan atau penggeledahan tersebut direkayasa. Pasalnya penyidikan dan penggeledahan tidak sesuai dengan prosedur dan terlihat dipaksakan. Bahkan menganggap keterangan saksi tidak sama dengan keterangan yang diberikan kliennya.

“Dalam penggeledahan di warung milik Slamet Mustari tidak ditemukan barang bukti minuman keras. Meski dilengkapi dengan surat-surat, tetapi dalam penggeledahan tersebut tidak menghadirkan saksi tokoh atau warga sekitar dan asal menggeledah saja dengan dasar surat yang ditentengnya tersebut,” terang ketiga Penasehat Hukum Slamet Mustari.

Masih menurut ketiga Penasehat Hukum, empat barang bukti yang perlihatkan dalam persidangan juga tidak sesuai dengan pernyataan saksi.

“Dalam pernyataan saksi keempat barang bukti tersebut tidak berlebel nama produk bekas minuman mineral, tetapi dalam kenyataannya dari salah satu barang bukti tersebur masih ada lebel nama produk bekas minuman mineral. Pertanyaan kami, dimana satu barang bukti yang tidak ada lebelnya, kenapa berganti yang berlebel, kami menduga semua ini direkayasa,” jelas mereka.

Para Kuasa Hukum menambahkan, dalam penggeledahan tersebut juga ditemui tiga orang yang melakukan mabuk-mabukan didepan warung Slamet Mustari dan mengatakan bahwa minuman tersebut dibeli dari warung Terdakwa, tetapi tidak melakukan tidakan hukum terhadap ketiga pelaku tersebut atas dasar melakukan minum-minuman keras ditempat umum.

“Saksi mengatakan telah menemukan tiga orang yang melakukan tindakan minum-minuman keras di depan warung Terdakwa dan saat ditanya mengatakan bahwa minuman tersebut dibeli dari Terdakwa. Tetapi yang disayangkan ketiga orang tersebut tidak dikenai sanksi apapun, bahkan saksi sudah lupa siapa ketiga pelaku yang melakukan minum-minuman keras tersebut. Ini menjadi kecurigaan kita kalau penyidikan atau penggeledahan tersebut diduga direkayasa,” cetus mereka.

Sedangkan menurut Sekjen LSM Cakra Tulungagung, Totok Yulianto mengatakan bahwa kasus miras tersebut terlalu dipaksakan. Menganggap keterangan saksi dari Polsek Kota mengingkari barang bukti yang disajikan oleh JPU.

“Kasus Slamet Mustari ini terlihat dipaksakan, salah satu barang bukti yang disajikan oleh JPU diingkari oleh saksi yang dihadirkan dari Polsek Kota yang saat itu ikut dalam melakukan penggeledahan. Kami bertanya-tanya, barang milik siapa itu kalau diingkari oleh saksi,” katanya.

Masih menurut Totok, dalam penanganan perkara empat botol miras tersebut memakan waktu yang cukup lama hingga satu tahun baru diajukan kedalam persidangan.

“Sungguh tidak masuk akal, perkara empat botol miras saja proses penanganannya memakan waktu hingga satu tahun seperti menangani perkara yang sangat besar saja. Padahal dalam Perkap No 12 tahun 2012 pasal 31 Ayat (huruf a sampai d) Tentang Batas Waktu Penyelesaian Perkara. Huruf a. 120 (seratus dua puluh) hari untuk penyidikan perkara sangat sulit, b. 90 (sembilan puluh) hari untuk penyidikan perkara sulit, c. 60 (enam puluh) hari untuk penyidikan perkara sedang, d. 30 (tiga puluh) hari untuk penyidikan perkara mudah,” terangnya.(zul)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional