pariwisata kabupaten malang

Menu

Rumah Tahan Gempa dari Panel Beton

  Dibaca : 36 kali
Rumah Tahan Gempa dari Panel Beton
Fredy Kurniawan menunjukkan hasil penelitiannya. (est)
space ads post kiri

# Produk Penelitian, Diaplikasikan untuk Korban Gempa Lombok

Surabaya, Memo X

Berawal dari penelitiannya mengenai Penggunaan Beton Pracetak Mutu Tinggi Ramah Lingkungan yang mendapatkan hibah penelitian dari Kemristekdikti sebesar Rp 190 juta, dosen Universitas Narotama Surabaya, Fredy Kurniawan, S.T.,M.T.,M.Eng.,PhD, memulai usaha pabrik panel b

eton. Panel beton bukanlah material bangunan biasa. Panel beton utamanya digunakan untuk pembangunan Rumah Tahan Gempa.
“Rumah Tahan Gempa pertama kali diinisiasi oleh kepala Puslitbang Perumahan dan pemukiman, Prof Ir Arief Sabaruddin. Tahun 2017 saya mulai mengenal konstruksi Rumah Tahan Gempa saat membimbing mahasiswa yang ingin membuat penelitian membangun rumah yang murah dan cepat,” ujar dosen Teknik Sipil itu, Selasa (4/9).

Ketika mencari referensi, Fredy dan mahasiswa itu menemukan Rumah Tahan Gempa dari berbagai bahan. Beberapa di antaranya adalah rangka baja, rangka kayu, baja ringan, dan panel beton. Saat itulah Fredy mulai tertarik dengan panel beton dan membuat pabrik produksi panel beton yang bernama Rumah Panel Surabaya sejak 2017.

“Panel beton adalah beton yang dicetak sedemikian rupa di pabrik. Kualitasnya jelas terjamin karena dicetak di pabrik, kemudian bentuknya modular sehingga bisa disusun sesuai imajinasi layaknya Lego, pembangunannya juga lebih mudah dan cepat karena hanya menggunakan sambungan baut,” jelasnya.

Material panel beton terdiri dari rangka besi 8 mm dan 6 mm yang dirangkat dengan penulangan selang-seling. Panel beton harus memenuhi mutu beton yang dianjutkan yaitu K300, serta mengikuti standar nasional Indonesia (SNI). Pembangunan rumah menggunakan panel beton hanya membutuhkan waktu 1 hari untuk menyusunan struktur dan sekitar 3 minggu untuk finishing.
Panel beton inilah yang menjadi material utama pembangunan Rumah Instan Sehat Sederhana (RISHA). RISHA telah teruji laboratorium uji gempa mampu menahan getaran hingga 8 skala Richter.

“RISHA juga telah teruji secara empiris di Aceh sejak 2004. Di Lombok Utara juga ada RISHA yang telah dibangun sejak 5 tahun yang lalu dan terbukti kuat menahan getaran gempa yang lalu,” ungkap Fredy.

Lulusan Heriot Watt University Inggris itu juga menjelaskan bahwa RISHA telah terpasang sebanyak 40.000 unit di seluruh Indonesia sejak 2004. RISHA juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar karena pembangunannya melibatkan masyarakat setempat, serta material dasarnya pun menggunakan bahan lokal. Sehingga, masyarakat sekitar mendapatkan dampak ekonomi yang positif.

Dari penelitian dan usahanya mengenai panel beton itu, Fredy saat ini menjadi salah satu aplikator pembangunan RISHA untuk korban gempa Lombok, khususnya di Lombok Timur dan Lombok Utara. Rencananya, RISHA yang akan dibangun dari proyek Dinas PU itu akan menggantikan keseluruhan rumah yang rusak karena gempa, yaitu berjumlah 32.129.

“Tapi saat ini masih fokus membuat sekitar 3.000-4.000 rumah di Lombok Timur dan Lombok Utara. Sekarang kami sudah membangun 20 unit rumah contoh karena memang dibutuhkan banyak orang untuk membangun sekian banyak unit rumah,” jelasnya.

Untuk membangun 1 unit rumah, dibutuhkan 1 tim yang terdiri dari 4 orang yang dapat menyelesaikannya dalam 1 hari. Itu berarti, untuk menyelesaikan 3.000 unit rumah maka dibutuhkan waktu sekitar 10 bulan. Jelas waktu itu terlalu lama. Fredy berharap akan mendapatkan tambahan anggota tim agar pembangunan RISHA bisa berjalan lebih cepat.

Satu unit rumah RISHA membutuhkan biaya sekitar Rp 22 juta yang terdiri atas struktur fondasi dan 138 panel beton, serta atap. Sisanya bisa dilakukan oleh masyarakat setempat, mulai dari dinding hingga ruangan di dalam rumah.

Sebagai peneliti, Fredy menyarankan rumah RISHA dengan struktur panel beton ini dipadukan dengan dinding rangka bambu berjarak 5 cm yang dilapisi dengan semen.

“Bambu adalah kearifan lokal yang memiliki uji tarik setara dengan besi, sehingga kuat menahan getaran gempa dan menyeimbangi struktur panel beton yang sudah sangat kuat,” paparnya.

Dinding dari rangka bambu yang dipadukan pada struktur rumah telah diuji secara empiris selama 30 tahun di Bali. Banyak juga penelitian mengenai dinding rangka bambu, sehingga sangat cocok jika dipadukan dengan struktur panel beton RISHA.
Alumni Asian Institute of Technology Thailand itu menambahkan, penggunaan bata, triplek, ataupun silika box juga bisa dilakukan, namun dinding hasilnya tidak terlalu tahan getaran. Sehingga meskipun struktur kuat menahan bangunan tetap berdiri tegak, namun dinding tetap bisa runtuh ketika gempa datang.

Selain Fredy Kurniawan yang menjadi aplikator Rumah Tahan Gempa untuk membantu korban gempa Lombok, Universitas Narotama Surabaya juga membuka posko bantuan untuk gempa Lombok sejak gempa pertama terjadi.
Koordinator posko bantuan gempa Lombok, Bambang Arwanto, S.H.,M.H, mengatakan UNNAR sudah menyalurkan sebesar Rp 30 juta pada 17 Agustus 2018 lalu. “Sekarang berlanjut lagi untuk gelombang 2,” tuturnya. (est/ano/jun)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional