pariwisata kabupaten malang

Menu

Fenomena di Tahun Politik

  Dibaca : 33 kali
Fenomena di Tahun Politik
Silahkan Memilih Capres
space ads post kiri

KEBISINGAN politik jelang Pilpres 2019 yang di-frame sebagai pertarungan antara Jokowi versus Prabowo, sekaligus Megawati versus SBY sebenarnya diwarnai oleh pertarungan antara dukun-dukun politik juga. Meramal masa depan, menerawang ruang “gaib” percakapan segelintir elite, memanipulasi kesadaran massa lewat mitos-mitos adalah kerja-kerja perdukunan.

Inilah fenomena mistik politik itu. Mistisisme atau mistifikasi artinya melebihi batas kewajaran, menyimpang dari keaslian. Misterius, absurd, dan teka-teki. Sementara percaturan politik memerlukan kalkulasi logis dan rasional.

Politik bercampur mistik sarat akan absurditas. Tatapan atas konsep kekuasaan, cara memperoleh dan mempertahankannya kental dengan kekaburan. Dukun disangka punya kekuatan adi-kodrati untuk mempengaruhi konstelasi politik. Dunia politik yang penuh aliansi Leviathan (monster) pun menerima.

Jangan lupa, bahwa mistifikasi kekuasaan tak melulu berpaku pada dukun tradisional, tapi juga melibatkan dukun politik modern. Pada zaman baheula, dukun (paranormal) mengandalkan rapalan mantra, jimat, pasang susuk, dan kini berpindah ke lembaga survey, pengamat, dan para broker. Lahan subur demokrasi meniscayakan beragam ekspresi pemikiran dan kepercayaan itu.

Lembaga survey, tidak lepas dari “peramalan”, sekalipun berlandaskan data-data statistik berupa riset tren perilaku pemilih yang dikuantifikasi, sesuai kaidah keilmuan yang objektif, namun ada kalanya terbatas. Kadang tepat sasaran, tak terhindarkan pula kekeliruan. Politisi pun begitu, termasuk pengamat.

Mistifikasi politik sejumlah politisi tercermin bukan hanya mengadu nasib di tangan dukun, tapi juga lelaku mereka yang doyan membangun citra yang sarat manipulasi. Lalu dikaranglah dongeng bahwa yang bersangkutan keturunan dari trah kerajaan ini dan itu. Narsisme politik menjadi-jadi, terlebih glorifikasi dari massa ‘binaan’ seolah memberi legitimasi.

Semua jadi serba remang-remang. Pemerintah setengah mati “kerja”, terus bersitegang dengan oposisi setengah “kerjain”. Gerakan mahasiswa laksana bendera setengah tiang, pesona kritisisme kian memudar. Pengaku moralis setengah matang, sekadar menjual produk garing, tanpa esensi dan narasi-narasi yang konstruktif. Kilatan cahaya dakwah bil hikmah, lambat-laun memadam berganti ujaran kebencian, dan tayangan uka-uka penuh khurafat. Dan polarisasi dukun-dukun politik di kedua kubu terus memancarkan magisisme politiknya.

Dus, mari kita menatap perbuatan politisi dari out-putnya saja. Seberapa jauh keberpihakan mereka atas hajat hidup orang banyak, itulah yang diukur, bukan baju yang dipakai. Pun berguru, pilihlah ulama tawadhu’, bukan berguru kepada kelompok yang di-ulamakan oleh pemburu kuasa, lewat mistifikasi politik.

Karena itu, saatnya demistifikasi politik. Politik harus dirayakan dengan kontestasi gagasan dan visi kerakyatan. Bukan berbasa-basi dengan takhayul, dan cerita fiktif. Sebab rakyat butuh kepastian.

Kemudian, mulailah memandang wajah ulama dengan ‘indra keenam’, maksudnya kalau ada sekelompok orang mengaku-ngaku ulama, atau di-ulamakan oleh elite predator, segera dekharismatisasi. Beranilah berpikir dan bersikap dengan jiwa yang merdeka. Sebab akhlak kebangsaan dan kemanusiaan menjadi ukuran. Bukan lidah yang terus melisankan kekuasaan-an sich.

Dan, agama harus melekat pada penganutnya untuk berkarakter logos, bervisi progresif, mendorong etos kemajuan. Jangan dinodai kesuciannya hanya belaka kekuasaan, lalu agama sebagai tameng. Ingatlah high politics, bukan ‘haid politik’: sedikit-sedikit ngamuk seperti orang kesurupan!

Jelang Pilpres 2019, tak terelakkan gesekan bawah tanah hingga udara antar ‘dukun-dukun politik’. Dan pesan buat Pak Jokowi (dan lain-lain), terima dan serap semua pergesekan itu, sebab “Kalau tak tahan digosok, kapan cerminmu akan mengkilat”, demikian Jalaluddin Rumi berkata.

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional