pariwisata kabupaten malang

Menu

Muhlis Adi Rangkul, Lelaki 1000 Janda

  Dibaca : 27 kali
Muhlis Adi Rangkul, Lelaki 1000 Janda
space ads post kiri


Bondowoso-Memo X

Menjadi janda pada saat usia tidak muda dan tubuh tak lagi mengundang selera akan menjadi masa yang tak diharapkan oleh semua orang. Apalagi, ia harus menanggung beban keluarga, tentu mereka harus memeras pikiran dan tenaga agar tetap bisa bertahan menghadapi kerasnya kehidupan.

Pada saat-saat seperti itu, jarang sekali pria membantu mereka apalagi membantu dengan lirikan mata. Untuk itu, sejak tahun 2015 lalu, Muhlis Adi Rangkul, pria asal Sumenep, Madura yang kini tinggal di Bondowoso Republik Kopi itu datang untuk mereka, membantu para janda yang usianya sudah renta.

“Seandainya saya punya banyak harta dan bisa menikahi 1000 janda itu, saya pasti menikahi mereka. Saya akan menyelamatkan kehidupan ekonomi mereka dengan harta yang saya punya. Tetapi beruntunglah saya tidak kaya harta dan agama saya mencukupinya 4 wanita dengan catatan keadilan sebagai kunci utamanya,” Muhlis Adi Rangkul, koordinator pendamping program Feminisasi Kemiskinan (PFK) Jalin Matra Bondowoso.

Menurut Muhlis, sejak ia menjadi pendamping PFK Jalin Matra, ia selalu dekat dengan ribuan janda. “Ya, bantuan yang diberikan kepada mereka memang bukan harta saya tapi dari pemerintah Jawa Timur. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari program itu sehingga saya bisa membantu para janda itu. Saya bisa membantu mereka, mampu membuat mereka tersenyum dan tertawa,” katanya.

Untuk mewujudkan kesejahteraan para janda itu, Muhlis mengaku dibantu oleh wanita wanita muda desa. Mereka juga dengan ikhlas memberi semangat dan harapan terhadap mereka.

“Saya memilih wanita wanita istimewa untuk membantu saya meringankan beban para janda, sebab wanita wanita istimewa itu juga akan memberikan saya inspirasi tentang bagaimana saya membuat mereka tertawa,”ujarnya.

Bagi Muhlis, hidup dan bergelut dengan ribuan janda adalah sebuah ikhtiar untuk mencari Ridha nya, karena tak semua orang suka kepada mereka yang menjanda hingga tua. Tak semua orang menyukai mereka ketika kulit mereka sudah tak lagi menggoda selera.

“Saya hanya ingin menolong mereka pada saat orang lain mencibirnya, saya ingin menolong mereka pada saat banyak orang menjauh darinya ketika mereka mulai menua, saya ingin menolong mereka pada saat orang lain menutup muka karena kulit mereka yang keriput dan tubuh mereka tak sedap dipandang,” kata Muhlis.

Ada ribuan janda yang selalu ia dekati namun tidak untuk dia nikahi melainkan untuk ia dengar keluh kesahnya, ia catat tangis dan candanya, ia tampung seribu aspirasinya.
Hampir tiap hari ia tak pernah lelah menyapa mereka. Ia mendatangi rumah mereka dari desa ke desa.

“Saya belajar dari mereka, saya belajar tentang bagaimana menjalani kehidupan di tengah keterhimpitan ekonomi, tentang sebuah kesetiaan ketika kehilangan lelaki pujaan, tentang bagaimana bertahan dalam godaan. Pengalaman ini tidak saya dapatkan di bangku sekolah maupun kuliah. Ada air mata di senyumnya yang tulus, tersenyum dalam getir. Tiap hari mereka bekerja bukan untuk menumpuk harta melainkan untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarga,” ujar Muhlis.

Dari sekian peristiwa demi peristiwa, ia catat segala aspirasi mereka, ia catat dalam buku hariannya. Membantu mereka adalah tujuan utamanya.

“Sukses itu adalah ketika kita bisa membantu mereka, memberdayakan mereka untuk bangkit membangun ekonomi mereka. Tetapi saya menyadari bahwa tidak mungkin saya membantu mereka dengan apa yang saya punya sebab saya tidak punya apa apa untuk diberikan pada mereka, tetapi melalui progam penanggulangan Feminisasi Kemiskinan (PFK) Jalin Matra, saya bisa mewujudkan harapan mereka, saya mampu membuat mereka tersenyum dan tertawa,” katanya.

Menurut dia, sejak tahun 2015 lalu, Muhlis Adi Rangkul sudah bergelut dengan kehidupan pada janda. Saat ini, sudah ada sekitar 2 ribu janda di Bondowoso yang berhasil ia bantu melalui program jalin Matra propinsi Jawa timur yang bekerjasama dengan LPPM Universitas Brawijaya, Malang.

Ada banyak cerita tentang janda. Diantara mereka ada yang hanya berpenghasilan tidak lebih dari 500 ribu sebulan namun mereka masih bisa hidup meski dalam serba kekurangan. Mereka ada yang rela makan sekali sehari, ada pula yang rela tidak menikah lagi karena cinta pada suami yang sudah tiada.

Ada pula diantara Mereka yang dinikahi di waktu muda kemudian ditelantarkan dimasa tua, tidak diurus sehingga mereka harus bekerja untuk menghidupi anak anaknya.(mkl)

Editor:
Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional